Senin, 29 Oktober 2012

Arti Bunga di Bali


Bunga bagi orang bali tampaknya bisa dimasukan ke dalam kebutuhan sehari-hari. Selain mereka memakainya sebagai bagian dari perhiasan rambut, persembahan sehari-hari, dijadikan bagian dari pewangi ruangan dan tentunya sebagai penghias halaman.
Saya melihat ada beberapa bunga yang sering sekali digunakan di Bali.  Bunga kemboja, yang sering identik dengan hal-hal mistis di daerah-daerah luar bali, sering digunakan sebagai penghias rambut dan pewangi ruangan. Wangi harumnya sebenarnya menenangkan dan sangat khas bali. Menarik sekali bagaimana orang Bali sering menaruh setangkai bunga saja, tapi memberi efek yang luar biasa.
Bunga lain yang cukup sering akan kita lihat adalah Padma atau lotus. Ada beberapa jenis yang tampak disini, walaupun saya belum melihat yang sebesar Padma di kebun raya Bogor. Hampir semua kolam diberi Padma di Bali, dan tidak sedikit pot-pot kecil diisi dengan bunga kebijaksanaan ini. Tapi alasan sebenarnya orang bali senang dengan Padma, lupa saya tanyakan pada teman bali saya. Ga berbakat jadi wartawan deh.
Bunga lain yang lumayan sering digunakan adalah bunga kembang sepatu. Teman Bali saya bercerita bahwa untuk patung Ganesha persembahannya tidak perlu dengan sesajen yang macam-macam, cukup dengan wangi bunga saja, dan tampaknya Ganesha menyukai bunga kembang sepatu ini.
Semua bunga itu menjadikan Bali menjadi sangat menyenangkan untuk ditinggali. Semoga saja orang di bali bisa mempertahankan keterlibatan bunga yang sangat tinggi ini dalam kehidupan mereka selamanya.

7 Jajanan Khas Bali


Berikut adalah 7 Jajanan Khas Bali yang banyak dijual di pasar tradisional. Sebenarnya ke 7 jajanan khas Bali ini bisa kita temukan juga di daerah lain seperti Malang, Jogja, Bandung dan mungkin ada di daerah lainnya dengan nama atau sebutan yang berbeda.

1. Jaje Godoh







Semua orang Bali atau yang pernah tinggal di Bali pasti tahu dengan jajanan yang satu ini. Jajanan yang biasa dijual di pasar atau di warung-warung ini sangat pas untuk teman minum kopi di pagi hari. Di daerah lain jajanan satu ini dikenal dengan nama PISANG GORENG.


2. Jaje Lempog











Jaje lempog bisa kita temukan di pasar tradisional. Jajanan yang terbuat dari singkong dan gula merah ini di Jawa terkenal dengan nama GETUK. Makanan ini sering dimasukan di jajanan bali dengan tambahan gula merah cair.

3. Jaje Laklak
















Jajanan yang terbuat dari tepung beras ini dimakan dengan parutan kelapa dan gula merah cair. Rasanya empuk dan lezat. Ternyata saya pernah menjumpai makanan yang mirip dengan jaje laklak, namanya SURABI. Bedanya kalau Surabi ada bermacam-macam rasa seperti Surabi keju, surabi susu, surabi coklat, Surabi oncom dan masih banyak lagi. Sedangkan kalau jaje laklak hanya satu versi yaitu Laklak dengan parutan kelapa dan gula merah.

4. Jaje Uli











Jajanan yang satu ini terbuat dari tepung ketan. Jaje uli banyak ditemukan pada saat ada hari raya umat hindu seperti hari raya galungan. jaje uli enaknya dimakan dengan tape ketan.

5. Jaje Sumping








Sumping adalah jajanan yang terbuat dari tepung beras berisi pisang didalamnya, dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus. Selain sumping pisang ada juga sumping yang terbuat dari labu (waluh). Kalau di daerah Jogja sumping pisang diberi nama NOGOSARI.

6. Jaje Giling












Jaje giling adalah jajanan yang terbuat dari tepung kanji alias aci diberi pewarna merah kemudian di pilin dan di masukkan kedalam air panas. Jaje giling ini biasanya disajikan dengan kelapa parut dan gula pasir atau gula merah cair. Ternyata di daerah Bandung saya pernah menjumpai jajanan seperti ini tapi entah apa namanya.

7. Jaje Klepon











Jajanan yang terbuat dari tepung ketan ini berbentuk bulat kecil dan berisi gula merah didalamnya. Klepon harus dimakan sekaligus, karena jika anda gigit sedikit demi seidkit, gula merahnya akan keluar dan mengotori tangan atau baju anda. Ternyata di Bandung dan Jogja juga ada jaje klepon dan namanya juga sama KLEPON. 

Jalak Bali

Tiap-tiap provinsi di Indonesia memiliki fauna identitas yang mencerminkan keberagaman hayati di daerahnya. Pilihan fauna-fauna tersebut berdasarkan bahwa fauna tersebut endemik di provinsi tertentu, khas provinsi tertentu atau merupakan komoditi andalan provinsi tertentu. Berikut ini adalah fauna identitas provinsi di Bali yang sangat mempesona.


JALAK BALI
Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang lebih kurang 25cm, dari suku Sturnidae. Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan betina serupa.
Endemik Indonesia, Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang. Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910. Nama ilmiah Jalak Bali dinamakan menurut pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada tahun 1912.


Karena penampilannya yang indah dan elok, jalak Bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menyebabkan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Untuk mencegah hal ini sampai terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran jalak Bali.

Minggu, 28 Oktober 2012

Arti Nama Orang Bali


Mungkin Anda yang bukan orang Bali bertanya-tanya; mengapa nama depan orang Bali ada kemiripan satu sama lainya. Sewaktu Kopda di Jember, dalam perbincangan kami dengan rekan-rekan di sana, ada rekan yang bertanya seputar nama orang Bali. Orang Bali umumnya memiliki nama depan seperti I Putu, I Wayan, I Gede, I Made, I Nyoman, I Ketut, dst. Ada juga yang memiliki nama depan seperti: Ida Bagus, Cokorda, I Gusti, Anak Agung, dst. Lalu apa sebenarnya makna dari nama depan tersebut?

Urutan kelahiran

Ada sedikit pembedaan nama depan antara anak laki dan perempuan. Untuk anak laki-laki umumnya ada awalan "i" di depan namanya. Sedangkan anak perempuan ada awalan "ni" di depan namanya. Misalnya: Ni Wayan Purni, I Putu Budiastawa. Tapi khusus bagi saudara kita yang berasal di Kabupaten Buleleng (Bali), pemberian awalan nama "I" dan "Ni" ini kadang diabaikan.

Secara umum, nama depan orang Bali menunjukkan urutan kelahiran:
  1. Anak pertama biasanya diberi nama depan seperti: I Ngurah, I Wayan, I Gede, Ni Luh (perempuan) atau I Putu. Contohnya seperti : I Putu kauh kaje. Ni Luh jegeg gati dll
  2. Anak kedua umumnya diberi nama depan seperti: I Nengah, I Made atau I Kade. Contohnya: I Nengah Gunadi, I Kade Sudana, I Made Sudibya, Ni Made Sri Andani, dll.
  3. Anak yang ketiga biasanya diberi nama depan: I Komang atau I Nyoman. Contohnya: I Komang Tirtayasa, I Nyoman Parwita, Ni Komang Candra Sari, dll.
  4. Anak keempat umumnya diberi nama depan: I Ketut. Contohnya: I Ketut Suparta, I Ketut Teja Negara, Ni Ketut Wiratnati, dll.
Lalu bagaimana dengan anak kelima dan seterusnya? Di sini ada 2 alternatif yang bisa dipakai orang tua untuk memberi nama depan pada anak kelima, keenam, dan seterusnya:
  • Pemberian nama depan bisa kembali lagi ke awal; nomor 1. Ada orang tua yang sengaja menambahkan kata "Balik" setelah nama depan anaknya untuk memberi tanda bahwa anak tersebut lahir setelah anak yang keempat. Contohnya: I Wayan Balik Suandra. Jadi nama depannya adalah "I Wayan Balik" yang menandakan bahwa dia adalah anak kelima, atau anak yang lahir setelah putaran 1 sampai 4.
  • Pemberian nama depan dengan terus mengulang I Ketut. Berapapun anaknya yang lahir setelah anak keempat, akan terus diberi nama depan "I Ketut".

Warna (Kasta)

Selain menunjukkan urutan kelahiran, ada nama depan tertentu yang menunjukkan kasta. Penamaan berdasarkan Kasta ini merupakan gelar warisan turun temurun yang melekat pada keturunan orang Bali yang dulunya memiliki kelas tersendiri berdasarka profesinya.

Nama depan seperti "Ida Bagus" untuk pria atau "Ida Ayu" untuk wanita, menunjukkan bahwa dia berasal dari keturunan kasta Brahmana di Bali. Brahmana adalah kasta dari penggolongan profesi sebagai pemuka agama; misalnya pendeta. Contohnya: Ida Bagus Dharmaputra, Ida Ayu Diah Tantri.

Nama depan seperti "Anak Agung", "I Gusti Agung", "Cokorda", "I Dewa", "Desak" (perempuan), "Dewa Ayu" (perempuan), "Ni Gusti Ayu" (perempuan), dan "I Gusti Ngurah", ini berasal dari kasta Ksatria yang merupakan golongan profesi dari pelaksana pemerintahan dan pembela negara. Contohnya: Anak Agung Komang Panji Tisna, Anak Agung Ayu Wulandari, Cokorda Rai Sudarta, I Dewa Putu Kardana, I Gusti Ngurah Adiana, dll.

Namun sering kali nama depan dari kasta-kasta di atas juga diikuti dengan urutan kelahiran. Seperti misalnya: Ida Bagus Putu Puja, Ida Ayu Komang Rasmini, I Gusti Agung Made Jayandara, Ni Gusti Ayu Putu Anggraeni, dll.

Makanan Khas Bali yang Menarik Hati


Bali memang tiada duanya, selain panorama alamnya yang begitu indah tenyata masakan khas Bali juga mampu menarik hati para wisatawan yang berkunjung. Makanan Bali memang terkenal sangat enak dan banyak sekali macamnya, dibawah ini ada beberapa makanan khas Bali yang terkenal.


BABI GULING
Babi Guling merupakan makanan khas Bali yang paling populer.
Babi guling merupakan sejenis lauk pauk yang dibuat dari anak babi betina atau jantan secara utuh kecuali isi perutnya dikeluarkan dan dibersihkan dengan air hangat, seluruhnya diganti dengan bumbu dan sayuran seperti daun ketela pohon, dipanggang diatas bara api sambil diputar-putar ( diguling-gulingkan) sampai matang yang ditandai dengan warna kulitnya menjadi kecoklatan dan renyah. Bumbu Bali juga mempengaruhi rasa kelezatan kulit babi guling, bumbu tradisional Bali “Base Genep,” serta dicampur dengan sayur daun singkong. Ketika daging babi matang, bumbu dan sayur itulah yang nantinya mendampingi kulit babi maupun daging babi ketika di makan.
Untuk menghindari terbakarnya kulit babi,  tempat pemanggangan api juga mesti diperhatikan, sehingga kematangan kulit dan daging babi pas buat rasa lidah. Jarak api dengan babi saat memanggang juga menjadi penentu kulit itu enak atau tidak, salah sedikit mengatur jarak kulit babi akan hangus. Tidak mudah membuat kulit babi guling terasa renyah dan enak, perlu konsentrasi tinggi saat memanggang dengan cara memutar daging babi yang telah ditusuk dengan bambu (guling) babi, jika tidak kulit babi itu akan terbakar, kalau terbakar rasa akan berubah menjadi pahit.
Babi guling pada mulanya digunakan untuk sajian pada upacara baik upacara adat maupun upacara keagamaan,  saat ini  telah dijual sebagai hidangan baik di warung-warung, rumah makan bahkan hotel-hotel berbintang di Bali. Babi guling yang paling terkenal biasanya berasal dari kabupaten Gianyar.

Lawar
Lawar merupakan makanan khas Bali. Saat ini Lawar mudah untuk ditemukan di Bali. Lawar sering dipakai untuk hidangan pada saat upacara adat, namun lawar juga banyak dijual oleh restoran dan rumah makan yang ada di Bali.

Bahan dasar dari lawar adalah sayur bukan daging, yaitu sejenis sayur-sayuran yang dicincang yang kemudian diberi bumbu berbasis terasi yang diramu dengan bumbu rempah-rempah. Di desa-desa Bali dapat ditemukan berbagai jenis lawar, seperti lawar nangka, lawar kacang panjang, lawar daun belimbing, lawar buah pepaya muda, lawar kelapa. Namun yang paling terkenal adalah lawar nangka dan lawar kacang panjang. Tetapi untuk menambah citarasa lawar kemudian diberi cincangan daging, seperti daging ayam, bebek, babi, sapi, keong, atau penyu.

Cincangan daging ini terkadang dibuat halus untuk menguatkan rasa bumbu, namun terkadang juga dibuat kasar supaya lebih terasa di lidah. Dan dikarenakan, masyarakat yang mengkonsumsi lebih menyukai daging saat ini lawar yang ada kebanyakan ada campuran dagingnya. Sampai-sampai lebih banyak daging dibandingkan dengan sayurannya.

Di desa-desa lawar cenderung berasa pedas, dan ada beberapa yang sengaja mencampurkan darah segar saat meremas bumbunya. Akan tetapi, di restoran atau pun warung makan biasanya lawar dibuat tidak terlalu pedas dan tidak dicampur darah, karena disesuaikan dengan selera turis-turis yang datang berkunjung.

Betutu
Betutu adalah lauk yang terbuat dari ayam atau bebek yang utuh serta dibumbui dari bagian luar dan dalam. Ayam atau bebek itu lalu dibungkusi dengan daun pisang, kemudian dilapisi lagi dengan pelepah pisang hingga rapat. Setelah itu ayam atau bebek itu ditanam dalam tanah dan ditutupi dengan bara api hingga 6 atau 7 jam (sampai matang).
Semua masyarakat Bali pasti mengenal betutu. Salah satu produsen betutu adalah desa Melinggih, kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar. Di sini betutu dipakai sebagai sajian pada upacara keagamaan atau upacara adat, dan juga untuk dijual.
Betutu ini tidak dapat dijadikan oleh-oleh karena tidak tahan lama, kecuali jika anda membelinya menjelang kepulangan ke kota tempat kamu tinggal dan itu pun jika anda menggunakan pesawat.

Rujak Kuah Pindang
Rujak kuah pindang ini merupakan kombinasi dari beberapa buah-buahan segar yang mirip dengan rujak manis pada umumnya. Buah yang sama dan sering digunakan seperti bengkuang, pepaya, kedondong, mentimun, belimbing dan lain-lain. Seperti biasa, buah-buahan dipotong kecil-kecil layaknya rujak pada umumnya.
Yang membedakan rujak ini dengan rujak biasa adalah pelengkapnya. Pelengkap ini terdiri dari kaldu (terbuat dari ikan), garam, terasi, dan cabai. Semua pelengkap ini digiling hingga halus dan tidak dicampur lagi dengan air karena sudah ada kuah pindang (kaldu ikan) yang sudah encer.
Cara membuatnya sebagai berikut, pertama ulek atau giling cabai, terasi, dan garam secara bersamaan hingga halus. Kedua masukkan kuah pindang yang sudah disiapkan. Ketiga aduk kuah pindang yang telah dicampur dengan cabai, terasi, dan garam yang sudah diulek. Keempat potonglah buah-buahan yang sudah disiapkan menjadi kecil-kecil. Terakhir, semua buah diaduk agar kuah pindangnya meresap dan rujak pindang ini siap untuk disajikan.

Sate Lilit
Sate yang ini berbeda dengan sate pada umumnya yang berupa daging yang dipotong dan ditusukan pada kayu kecil. Sate ini dibuat dengan cara melilitkan daging pada sebatang bambu. Daging yang digunakan dapat berupa daging ikan, ayam, bebek, babi, atau burung dara. Namun, yang biasanya terdapat pada warung-warung di Bali adalah sate lilit yang terbuat dari daging ikan tuna atau daging ayam.
Cara membuatnya adalah sebagai berikut, daging dimasukkan ke dalam lesung, kemudian dihaluskan menggunakan alu bersama dengan bumbu, santan dan parutan kelapa. Setelah daging menyatu dengan bumbu, maka sate mulai dibentuk dengan mengepal daging hingga memanjang dan melilitkannya pada tangkai yang dibuat dari bambu. Setelah itu sate dibakar kemudian siap dihidangkan berbarengan dengan tupat, sup ikan dan plecing kangkung.


Srombotan
Srombotan adalah sayuran khas dari Klungkung. Srombotan ini adalah sejenis gado-gado versi Klungkung. Makanan ini adalah campuran sayur-sayuran dengan kacang-kacangan yang dibumbui dengan sambal kelapa dan sambal siram yang terbuat dari kacang tanah, terasi dan cabai.
Sayuran yang biasa dipakai adalah kangkung, bayam, buncis, kacang panjang, terong bulat (mentah), pare, kecipir. Kacangnya antara lain kacang tanah, botor, kacang merah, kacang kara, jagung goreng, dan kecambah.

Sambal Matah
Di Bali sambal matah berarti sambal mentah. Sambal ini memang sesuai dengan namanya dibuat dari bahan mentah antara lain terasi yang dibakar, bawang merah, cabai, sereh, dan daun jeruk purut yang semuanya masih mentah dan segar. Semua bahan itu kemudian diiris menjadi halus, kemudian dicampurkan dengan terasi dan garam dengan cara mengulet atau meremasnya. Setelah halus semua itu ditambahkan sedikit minyak kelapa. Biasanya sambal ini dimakan bersama sate lilit atau ikan asin. Dapat juga diurabkan pada daging ayam yang disuir-suir.

Nasi Jinggo
Nasi jinggo merupakan satu jenis hidangan murah meriah dan sangat terkenal di Bali (khususnya di Denpasar dan Badung). Pada awalnya, nasi jinggo ini disediakan bagi para pekerja malam yang sering lembur. Tapi seiring waktu berlalu, nama nasi jinggo ini menyebar hampir ke seluruh sudut kota Denpasar, Badung, bahkan beberapa kota di Bali.
Nasi jinggo ini hanyalah nasi bungkus biasa (mirip sego kucing yang terkenal di Yogyakarta). Nasi jinggo ini dibungkus daun pisang, dengan campuran lauk mie, ayam suir, tempe goreng, telur rebus 1/4 butir, dan dengan khasnya adalah sambal tomat yang dicampur dengan terasi pedas tapi lezat.
ukuran nasi jinggo terbilang kecil, hanya segenggam kepalan tangan saja, dan harganya juga sangat murah yaitu dengan kisaran 3.000,- rupiah.

Permainan Tradisional Bali


Bali selain kaya dengan alamnya dan budayanya, tidak kalah pentingnya Bali juga kaya dengan permainan khasnya yang sering dimainkan oleh anak-anak Bali, namun seiring berjalannya waktu permainan ini sudah sangat sulit dijumpai. Dibawah ini adalah beberapa permainan Bali yang dulu sangat 'Eksis' pada masanya.
MEONG-MEONG
Meong-meongan merupakan permainan tradisional masyarakat bali yang umum dimainkan oleh anak-anak di bali diiringi dengan nyanyian lagu meong-meong. Permainan ini menggambarkan usaha dari si kucing atau dalam bahasa bali disebut meng untuk menagkap si tikus atau bikul.
Dalam permainan ini biasanya diikuti oleh lebih dari 8 orang atau lebih dimana 1 orang memerankan bikul (tikus) satu orang memerankan sebagai meng (kucing) dan yang lainnya bertugas melindungi bikul dari meng dengan cara membentuk lingkaran kemudian si bikul berada di dalam lingkaran sedangkan meng berada di luar lingkaran. Meng akan berusaha masuk ke dalam lingkaran dan berusaha menangkap bikul. Anak-anak yang membentuk lingkaran juga akan berusaha menghalangi meng masuk ke dalam lingkaran. Si meng baru boleh menangkap si bikul ketika lagu sudah pada kata-kata juk-juk meng juk-juk kul.
Satu lagi permainan tradisional yang bisa dinikmati di bagian utara pulau Bali ini yaitu megoak-goakan.
MEGOAK-GOAKAN
Megoak-goakan ini adalah tarian rakyat yang sering kali dipentaskan menjelang Hari Raya Nyepi dan hanya terdapat di Desa Panji, kecamatan Sukasada 6 km ke selatan dari Kota Singaraja. Nama megoak-goakan diambil dari nama Burung Goak (Burung Gagak) ketika burung itu mengincar mangsanya kegiatan ini merupakan pementasan ulang dari sejarah kepahlawanan Ki Barak Panji Sakti sebagai Pahlawan Buleleng pada waktu menaklukkan Kerajaan Blambangan di Jawa Timur.



Sabtu, 27 Oktober 2012

Song Sombah

Song Sombah berarti Sebuah lubang yang berada pada bagian bawah tembok samping angkulangkul, berfungsi sebagai panguus sarwa mala. Song sombah juga memiliki penjaga, Penjaga Song Sombah ini sendiri yaitu Sang Bhuta Anungkarat. 

Song sombah biasanya diberi canang, banten saiban dan juga segehan untuk menetralisir butha kala dan juga agar butha kala tidak masuk kedalam lingkungan rumah.
Disamping itu, guna song sombah juga agar tidak terjadi banjir saat hujan. 
Jadi air yang menggenang dapat mengalir ke saluran pengairan.

Dirumah saya, sebenarnya saya memiliki 3-5 Song sombah namun gambar dibawah ini adalah Song sombah yang terletak di Merajan rumah saya.